1998

Puncak Kebangkitan (Kembali) Feminisme

Di era Soeharto yang meredam suara gerakan perempuan feminisme sukar mendapat kesempatan mengambil peran dalam upaya menghentikan rezim otoriter pada masa orde baru. Namun, hal yang berbeda terjadi pada Wardah Hafidz seorang aktivis perempuan yang bergerak untuk hak-hak kaum marginal. Pada Mei 1998, Wardah bersama kawan-kawannya turun kejalan untuk meneriakkan penindasan yang selama ini dialami […]

Puncak Kebangkitan (Kembali) Feminisme Read More »

Ketika Rumah Susi Susanti Nyaris Dibakar

Susi Susanti merupakan sosok penting dalam sejarah badminton Indonesia. Torehan prestasi yang ia raih selama berkarir menjadikannya pebulutangkis perempuan pemegang rekor kemenangan beruntun terpanjang. Di balik perjalanan kisah sukses-nya mengharumkan nama Indonesia, ternyata Susi Susanti pernah mengalami diskriminasi oleh negeri sendiri.  Pada Mei 1998, Susi tengah berjuang atas nama Indonesia pada ajang Uber Cup 1998

Ketika Rumah Susi Susanti Nyaris Dibakar Read More »

Mereka yang Menuntut Keadilan

Aksi Kamisan telah dilaksanakan hingga ratusan kali dan lebih dari satu dekade. Namun, apa yang menjadi tuntutan belum juga terpenuhi, yakni penyelesaian pelanggaran HAM berat di Indonesia. Peserta Aksi Kamisan datang dari beragam latar belakang, tetapi mereka memiliki satu tujuan bersama yaitu memperjuangkan keadilan bagi korban pelanggaran HAM. Salah satu peserta Aksi Kamisan yang setia

Mereka yang Menuntut Keadilan Read More »

Korban Tragedi Mei 98: HAM Bukan Cuma Janji

Bertahun-tahun berlalu, namun jalan membela para korban Tragedi 1998 masih belum menemukan titik terang. Hingga saat ini kebenaran belum terungkap dan pelaku utamanya belum juga diadili. Padahal tragedi tersebut memakan korban ratusan. Hingga saat ini, para korban dan keluarga masih mengharapkan kejelasan dari pemerintah. Minarni, salah satu penyintas, rutin mengikuti kegiatan pertemuan Tragedi 1998. Ia

Korban Tragedi Mei 98: HAM Bukan Cuma Janji Read More »

Koperasi Gemah Ripah, Penyambung Hidup Keluarga Korban Pelanggaran HAM

Purwati dan Kusmiyati adalah dua perempuan paruh baya yang banyak berbagi kesamaan pengalaman hidup. Keduanya kehilangan putra mereka dalam Tragedi 1998. Meskipun usia yang tidak lagi muda, Purwati dan Kusmiyati mesti berjuang menafkahi keluarga. Sebab, putra kesayangan yang menjadi harapan keluarga kini sudah tiada.  Sejak peristiwa 1998, Purwati dan Kusmiyati tidak mendapatkan jaminan dan bantuan

Koperasi Gemah Ripah, Penyambung Hidup Keluarga Korban Pelanggaran HAM Read More »

Mei 1998 yang Mengubah Saya

Bagi Elisa, Mei 1998 merupakan titik balik yang mengubah banyak hal dalam dirinya. Kala itu, ia masih menjadi mahasiswa arsitektur yang hanya fokus dengan tugas-tugas kuliah. Namun, ketegangan selama pertengahan bulan Mei 1998, membuatnya seakan terlahir kembali menjadi individu yang berbeda. Mimpi yang sebelumnya ingin menjadi arsitek ternama, kini berbalik arah menjadi seorang aktivis yang

Mei 1998 yang Mengubah Saya Read More »

Luka Turun-temurun Tionghoa Indonesia

Hubungan antara Tionghoa-Indonesia dengan penduduk asli Indonesia dari masa ke masa banyak menorehkan memori-memori buruk. Perubahan kepemimpinan di Indonesia nyatanya tidak bisa menghilangkan tendensi rasisme yang dilalui oleh warga negara Indonesia keturunan Tionghoa. Pengalaman rasis yang mereka alami pun berbuah menjadi hal traumatis. Bahkan, ketakutan tersebut diwariskan turun-temurun ke generasi selanjutnya.  Salah satu puncak pengalaman

Luka Turun-temurun Tionghoa Indonesia Read More »

Prasangka dan Trauma Itu Masih Ada

Puncak kekerasan terhadap etnis Tionghoa-Indonesia yang terjadi 20 tahun lalu meninggalkan banyak tanya dalam melanjutkan kehidupan berbangsa. Tercatat ada ratusan korban perkosaan, pembunuhan dan penjarahan massal yang korbannya didominasi oleh etnis Tionghoa-Indonesia. Mengapa etnis Tionghoa-Indonesia menjadi korban? Apakah kejadian ini mungkin terulang kembali? Rasanya, pertanyaan-pertanyaan ini perlu dijawab. Selama Januari hingga Maret 2020, tepatnya saat

Prasangka dan Trauma Itu Masih Ada Read More »

Apa yang Tidak Kita Bicarakan Saat Berbicara Tentang Tionghoa Indonesia

Sebagai kelompok yang menjadi korban kekerasan berbasis diskriminasi, kolektif Suara Peranakan Tionghoa menjadi bagian penting dalam membangun resistensi terhadap ketidakadilan dan merawat nilai-nilai kemanusiaan. Berbagai kegiatan bersifat humanis dilakukan oleh mereka sebagai upaya agar tidak terulangnya sejarah kelam, dan tentunya untuk terus menjaga persatuan bangsa. Namun, meski sudah 24 tahun berlalu sejak Tragedi 1998, representasi

Apa yang Tidak Kita Bicarakan Saat Berbicara Tentang Tionghoa Indonesia Read More »

Menolak Lupa Kerusuhan Mei 1998

Ketegangan di pertengahan bulan Mei 1998 masih sangat jelas di kenangan Sensen. Memori kepulan asap, debu, dan udara menyengat Jakarta kembali memenuhi ingatannya akan gambaran Mei 1998.  Sensen, perempuan keturunan etnis Tionghoa, memberanikan diri menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai wartawan untuk mencatat apa yang terjadi di hari itu. Meskipun ia tahu konsekuensi yang mungkin dihadapi 

Menolak Lupa Kerusuhan Mei 1998 Read More »